Rangkuman Pengantar Ekonomi Gregory Mankiw Bab 7-9

Wendy Burhannurdin
170210110065

BAB 7 Konsumen, Produsen, dan Efisiensi Pasar
• Ekonomi kesejahteraan (welfare economics) adalah studi tentang bagaimana alokasi sumber daya mempengaruhi kesejahteraan ekonomis.
• Kesediaan membayar (willingness to pay) adalah jumlah maksimum yang mau dibayar oleh konsumen untuk memperoleh suatu barang.
• Surplus konsumen (consumer surplus) sama dengan jumlah yang mau dibayarkan konsumen (kesediaan membayar) dikurangi jumlah yang sebenarnya dibayarkan konsumen untuk memperoleh suatu barang. Surplus konsumen ini merupakan keuntungan yang dinikmati konsumen dari keikutsertaannyadi sebuah pasar. Secara grafis, surplus konsumen dapat dihitung berdasarkan luas bidang yang terletak dibawah kurva permintaan dan di atas garis harga.
• Biaya adalah nilai segala sesuatu yang harus dikorbankan penjual dalam memproduksi suatu barang.
• Surplus produsen (producer surplus) adalah jumlah pembayaran yang diterima penjual dikurangi biaya yang dipikulnya dalam memproduksi suatu barang. Surplus produsen merupakan ukuran keuntungan produsen atau penjual dari keikutsertaannya di sebuah pasar. Secara grafis, surplus konsumen dapat dihitung berdasarkan luas bidang yang terletak dibawah garis harag dan di atas kurva penawaran.
• Suatu alokasi sumber daya yang memungkinkan terciptanya surplus maksimal bagi produsen dan konsumen, dikatakan efisien. Para pembuat kebijakan selalu dihadapkan pada tugas untuk menggapain efisiensi tersebut, di samping keseimbangan atau pemerataan distribusi kesejahteraan ekonomi.
• Efisiensi adalah kondisi ketika suatu alokasi sumber daya dapat memaksimalkan surplus total yang diterima oleh setiap anggota masyarakat.
• Kesamarataan adalah keadilan distribusi kesejahteraan di antara segenap anggota masyarakat.
• Ekuilibrium penawaran dan permintaan akan memaksimalkan surplus produsen dan surplus konsumen. Jika ini terwujud, maka mekanisme tangan tak nampak di pasar telah berhasil membawa para pembeli dan penjual ke alokasi sumber daya secara efisien.
• Pasar tidak selaludapat mengalokasikan sumber daya secara efisien. Jikan ini terjadi, maka sebutannya adalah kegagalan pasar. Contohnya adalah munculnya apa yang disebut sebagai kuasa pasar dan eksternalitas.

BAB 8 Aplikasi: Biaya Perpajakan
• Jika pajak dibebankan terhadap pembeli, kurva permintaan akan sebesar pajak tersebut, sedangkan jika pajak itu dibebankan pada para penjual, maka hal itu akan menggeser kurva penawaran ke atas sebesar pajak itu. Dalam hal itu, pengenaan pajak itu sama-sama menaikkan harga yang harus dibayar pembeli, sedangkan pendapatan yang diterima produsen dari penjualan produknya menjadi berkurang. Artinya, pengenaan pajak itu selalu akan mengurangi surplus total bagi pembeli dan penjual. Itulah yang disebut sebagai beban baku (deadweight loss) pajak.
• Beban baku (deadweight loss) pajak adalah berkurangnya surplus total akibat pemberlakuan pajak.
• Elastisitas penawaran dan permintaan terhadap harga, yang masing-masing megukur perubahan kuantitas penawaran dan kuantitas permintaan pada saaat harga berubah akibat pajak menentukan besar-kecilnya beban baku yang ditimbulkan pajak.
• Pendapatan pajak (tax revenue) adalah hasil perkalian antara tarif pajak dengan jumlah penjualan.
• Pengenaan pajak terhadap suatu barang memberikan beban pada harga yang harus dibayar pembeli dan pendapatan yang akan diterima penjual. Kuantitas penjualan barang itu pun akan berkurang.

BAB 9 Aplikasi: Perdagangan Internasional
• Harga dunia (world price) adalah harga atas suatu barang yang berlaku di pasar dunia.
• Tarif adalah pajak yang dikenakan terhadap barang-barang yang diproduksi di luar negeri dan dijual di dalam negeri.
• Dampak-dampak perdagangan internasional dapat diketahui, dengan membandingkan harga atas suatu barang yang berlaku di pasar domestik dengan harga barang yang berlaku di pasar internasional/dunia. Jika harga dalam negeri lebih murah, itu berarti negara yang bersangkutan memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi barang tersebut, sehingga negara ini sebaiknya menjadi pengekspor. Sedangkan jika harga di dalam negeri lebih mahal, maka itu berarati negara-negara lain yang memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi barang tersebut, sehingga sebaiknya negara ini menjadi pengimpor barang tersebut.
• Ketika sebuah negara membuka hubungan perdagangan internasional dan menjadi pengekspor suatu barang, maka keuntungan para produsen barang tersebut di dalam nengeri akan meningkat, sedangkan konsumen domestik akan mengalami kerugian (karena harganya naik). Sebaliknya, kalau negara itu mulai membuka hubungan perdagangan internasional dan menjadi pengimpor suatu barang, maka para produsen barang tersebut di dalam negeri akan mengalami kerugian, sedangkan konsumen domestik akan memperoleh keuntungan (karena harga barang tadi turun). Namun dalam kedua kasus ini, keuntungan yang diciptakan oleh perdagangan internasional itu lenih besar daripada kerugiannya.
• Penerapan taarif (pajak barang impor) akan menggerakkan pasar di negara yang bersangkutan, mendekati ekuilibrium sebelum adanya perdaganagan internasional. Itu berarti, penerapan tarif mengurangi keuntungan dari perdagangan. Meskipun produsen domestik diuntungkan dan pemerintah memperoleh pendapatan pajak, konsumen mengalami kerugian, dan kerugiannya lebih besar dari keuntungan produsen dan pemerintah tersebut.
• Kuota impor adalah pembatasan jumlah barang yang diproduksi di luar negeri dan dijual di dalam negeri.
• Pemberlakuan kuota impor menimbulkan dampak yang mirip dengan dampak tarif. Hanya saja, jika yang diterapkan adalah kuota impor, maka keuntungan yang sedianya diterima pemerintah (dalam kasus tarif), beralih ke tangan segelintir orang pemilik lisensi impor.
• Terdapat berbagai macam argumen dengan aneka dalih yang menekankan perlunya pembatasan perdagangan internasional, mulai dari demi melindungi para pekerja di dalam negeri, menghindari kompetisi yang tidak sehat atau tidak adil, dan untuk membalas negara lain yang sudah lebih dulu melakukan pembatasan perdgangan. Meskipun sebagian argumen itu memang benar adanya, namun secara umum para ekonom tetap berkeyakinan bahwa kebijakan yang terbaik adalah membiarkan perdagangan bebas berlangsung seperti apa adanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s