Columbian Peruvian Asylum Case

LATAR BELAKANG KASUS

Columbian Peruvian Asylum Case merupakan sebuah kasus dalam hukum internasional yang terjadi pada tahun 1950. Kasus ini bermula dari pemberontakan terhadap pemerintahan di Peru pada tanggal 3 Oktober 1948 yang dipimpin oleh Victor Raul Haya de la Torre yang merupakan pemimpin dari American People’s Revolutionary Alliance (APRA), sebuah partai politik di Peru. Namun, pemberontakan tersebut dapat digagalkan oleh pemerintah Peru pada hari yang sama. Karena kegagalan pemberontakan tersebut, Haya de la Torre diburu oleh pemerintah Peru dan diperintahkan untuk ditangkap dan terancam dipidanakan. Ia menjadi buronan utama di Peru pada saat itu. Keadaan tersebut tentu membuatnya merasa terancam keselamatannya. Karena hal tersebut, ia kemudian melarikan diri dan pergi ke Kedutaan Besar Kolombia di Lima, Peru dengan tujuan untuk meminta suaka diplomatik kepada Kolombia.

Pada 3 Januari 1949, Perwakilan Kolombia mengumumkan suakanya kepada Menteri Luar Negeri Peru sesuai dengan kesepakatan dalam suaka yang ditandatangani di Havana, Kuba tahun 1928, yang diratifikasi oleh dua negara, ia menyampaikan bahwa ia telah mengklasifikasikan Victor Raul Haya de la Torre sebagai suaka politik, seperti pada konvensi Montevideo pada tahun 1933, yang juga ditandatangi oleh kedua negara, dan meminta adanya safe conduct pass seseorang dapat keluar dari negaranya. Namun, Peru menolak pernyataan dan keinginan dari Kolombia tersebut karena Peru tidak meratifikasi perjanjian Montevideo 1933. Setelah banyak menemui jalan buntu dalam penyelesaian masalah tersebut, kedua negara akhirnya menyelesaikan masalah mereka melalui pengadilan di Mahkamah Internasional (International Court of Justice).
.

PUTUSAN PENGADILAN

Pada tanggal 20 November 1950, pengadilan memberikan keputusannya, dimana menolak posisi Kolombia yang menganggap bahwa sebagai negara yang memberikan suaka memiliki hak untuk secara sepihak menggolongkan kejahatan yang dilakukan partai tersebut sebagai sesuatu yang benar meminta suaka. Kolombia mengutip Perjanjian Montevideo tahun 1933 tentang Suaka, menyetujuinya, namun Peru tidak meratifikasinya, mengingat bahwa aturan yang dinyatakan dalam perjanjian tersebut adalah untuk mengklasifikasi suaka oleh negara-negara yang mengatakan bahwa suaka merupakan pengkodean simpel dari aturan yang jenisnya telah meluas di Amerika, dan bahwa Peru telah mengambil jalan ke arah sana dengan memberikan safe conduct pasess kepada pencari suaka yang lain. Pengadilan mempertimbangkan bahwa Peru tidak terlingkupi oleh Perjanjian Montevideo pada tahun 1933 dan sehingga tidak pada kondisi yang memungkinkan untuk menggunakan prosedur yang biasa.
Pengadilan memutuskan bahwa Kolombia tidak berhak memberikan suaka kepada Haya de la Torre dan Peru tidak terikat pada Perjanjian Montevideo dan tidak perlu memberikan safe conduct pass kepada de la Torre.

ANALISIS

Kasus tersebut merupakan sebuah kasus yang sangat menarik untuk dibahas. Kasus tersebut mengindikasikan bahwa sebuah negara dalam hal ini Kolombia dijadikan sebagai ‘tempat pelarian’ bagi pelaku tindak kejahatan. Kondisi tersebut sangat mungkin terjadi di negara manapun karena pada dasarnya pelaku tindak kejahatan tersebut ingin melindungi dirinya dari hukuman pidana di negara asalnya. Namun, yang perlu dicermati adalah pemberian suaka diplomatik yang sangat begitu mudah diberikan kepada pencari suaka yang merupakan pelaku kejahatan tersebut. Pada kasus ini, pemberian suaka yang dilakukan oleh Kolombia terhadap de la Torre menurut Kolombia merupakan sebuah wujud dari kebiasaan yang terjadi di antara negara-negara Amerika Latin dimana perpindahan penduduk antarnegara di kawasan tersebut sudah biasa terjadi. Pemerintah Kolombia harus membuktikan bahwa aturan yang ada tersebut masih digunakan secara konstan (terus menerus) dan seragam dilakukan oleh negara yang bersangkutan, dan penggunaannya juga merupakan ekspresi dari hak negara yang melakukan pemerian suaka serta kewajiban dalam teritorialnya. Namun, pengadilan Mahkamah Internasional memutuskan bahwa Kolombia tidak bisa membuktikan bahwa kebiasaan dalam pemberian suaka politik telah menjadi hukum kebiasaan di Amerika Latin. Hal ini dapat dilihat dari tindakan Peru yang tidak meratifikasi Perjanjian Montevideo 1933 mengenai kualifikasi pelanggaran dalam hal suaka diplomatik karena mereka mempunyai prinsip yang berbeda mengenai perjanjian tersebut.

Kasus mengenai suaka diplomatik ini akhirnya diputuskan di International Court of Justice bahwa Peru tidak harus memberikan safe conduct pass kepada Victor Raul Haya de la Torre dan Kolombia tidak berhak memberikan suaka diplomatik kepada de la Torre.

DAFTAR PUSTAKA

Columbian and Peruvian Asylum Case (http://nataliayessiekristanti.blogspot.com/2009/11/columbian-peruvian-asylum-case-1950.html), diakses 25/09/2012

D.J.Harris. Case and Material Law chapter 2. Dalam terjemahan Bahasa Indonesia (http://haqrahdewisafytra.blogspot.com/2010/10/dj-harris-case-and-material-law-chapter.html), diakses 25/09/2012

International Court of Justice. Asylum Case: Columbia v. Peru. (http://www.icj-cij.org/docket/files/14/1937.pdf), diakses 23/09/2012

Peruvian and Columbian Asylum Case (http://farahtasks.blogspot.com/2010/02/peruvian-and-columbian-asylum-case.html), diakses 25/09/2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s