Konstruktivisme

Konstruktivisme adalah salah satu pendekatan dalam analisis kebijakan luar negeri selain realisme dan liberalisme. Nicholas Onuf merupakan orang yang pertama kali memperkenalkan konstruktivisme dalam HI. Selain Onuf, penstudi konstruktivis HI yang terkenal lainnya adalah Alexander Wendt, Friedrich Kratochwill dan John Ruggie. Konstruktivisme menekankan kepada pendekatan realitas sosial dalam memahami fenomena hubungan internasional. Realitas sosial yang dimaksud di sini bukanlah obyek material atau entitas fisik yang berada di luar kesadaran manusia, tetapi bagian dari subjek manusia yang membuat dan mengubahnya, atau istilahnya dikonstruksi secara sosial. Karenanya studi Konstruktivis dalam HI harus memfokuskan pada ide-ide dan kepercayaan yang mengilhami atau menginformasikan para aktor dalam percaturan internasional dan pada pemahaman-pemahaman bersama yang mereka miliki.

Lebih lanjut menurut Eby Hara sebenarnya konstruktivisme merupakan reaksi terhadap realisme, terutama sekali neo-realisme. Karenanya, konstruktivis lebih memfokuskan pada aspek-aspek sosial, tidak seperti realis yang lebih menekankan kepada aspek-aspek materialis. Dunia sosial menurut konstruktivis bukanlah sesuatu yang diberikan, dunia sosial bukanlah sesuatu yang hukum-hukumnya dapat ditemukan melalui penelitian ilmiah dan dijelaskan melalui teori-teori ilmiah, seperti yang dikemukakan oleh kaum behavioralis dan kaum positivis. Perbedaan ini dapat dilihat dari cara keduanya dalam memandang hubungan internasional. Kaum konstruktivis memandang dari pemahaman secara sosial yang terdapat di benak setiap aktor, sedangkan kaum realis memandang dari aspek-aspek material yang dimiliki oleh sebuah aktor. Sebagai contoh menurut Alexander Wendt, 500 buah senjata nuklir Inggris sedikit mengancam Amerika Serikat daripada 5 buah senjata nuklir Korea Utara, sebab Inggris adalah teman Amerika Serikat dan Korea Utara bukan, dan persahabatan dan permusuhan adalah fungsi dari pemahaman bersama. Inilah pemahaman mengenai aspek sosial dari para aktor yang dimaksud oleh kaum konstruktivis di mana bukan aspek material yang dilihat sebagai ancaman, melainkan pemahaman mengenai aspek sosial, bahwa negara yang secara materi lebih kuat tidaklah mengancam karena merupakan sahabat. Sebaliknya, negara yang materinya lebih lemah lebih mengancam karena merupakan musuh.

Dalam konteks kebijakan luar negeri, negara akan memandang dari aspek sosial seperti contoh yang telah disebutkan sebelumnya dalam membuat dan memutuskan sebuah kebijakan luar negerinya. Tentu semuanya dilakukan dengan memperhatikan kepentingan nasional mereka masing-masing. Negara akan memandang negara lain sebagai teman atau musuh sesuai apa yang sejalan dengan kepentingan mereka masing-masing. Dalam hal ekonomi misalnya, negara akan saling bekerja sama dengan mengesampingkan konflik-konflik politik yang ada jika kebutuhan ekonomi mereka sudah sangat mendesak. Realitas sosial yang ada adalah bahwa negara melakukan kerja sama karena desakan kepentingan nasionalnya, terutama di bidang ekonomi.

Konstruktivisme Onuf

Nicholas Onuf terkenal sebagai penstudi konstruktivis HI dengan bukunya yang berjudul World of Our Making. Menurut Onuf, makna dalam hubungan sosial bergantung kepada keberadaan rules di mana setiap analisis sosial harus dimulai dari rules tersebut. Dengan rules tersebut, setiap orang akan melakukan tindakan sesuai dengan apa yang seharusnya ia lakukan. Lebih lanjut, dalam pandangan konstruktivis, dunia sosial merupakan dunia yang terbanguna dari tindakan-tindakan manusia sehingga Onuf menyimpulkan bahwa realitas internasional pun merupakan hasil tindakan manusia. Dalam hal ini jelas bahwa Onuf menolak pandangan dari neorealisme yang menitikberatkan kepada sistem internasional sebagai penyebab dari realitas internasional. Ia mempercayai bahwa realitas internasional merupakan hasil dari tindakan manusia, bukan dari sistem internasional yang ada.

Konstruktivisme Modern

Konstruktivisme modern menekankan peran norma-norma sosial, yaitu pemahaman bersama yang berisi ’keharusan’, dan juga dalam kasus yang lebih sedikit pada peranan identitas dalam membentuk tujuan-tujuan internasional dan kebijakan luar negeri yang akan diambil. Konstruktivisme ini terutama sekali mengkritik tentang pandangan neorealisme mengenai struktur internasional yang anarki. Konstruktivisme modern ini terlihat dalam pandangan dari Alexander Wendt yang menekankan kepada interaksi antar negara yang terjadi sehingga faktor-faktor domestik cenderung diabaikan. Ia juga menitikberatkan kepada bagaimana struktur yang dimaksudkannya sebagai struktur ide, bukan struktur kapabilitas militer yang membentuk hubungan antar negara. Dengan kata lain, interaksi yang terjadi dalam setiap hubungan antar negara merupakan hasil dari struktur ide, yang merupakan hasil dari tindakan pola pikir manusia, bukan hasil dari struktur material/realitas material seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s