The Scotia Case

Kebiasaan sebagai sumber Hukum Internasional

Di dalam pasal 38 ayat 1 Statuta Mahkamah International Court of Justice disebutkan bahwa kebiasaan internasional, yang terbukti dari praktek umum telah diterima sebagai hukum. Kebiasaan internasional pada umumnya merupakan suatu kaidah-kaidah yang telah diterima secara luas sebagai hukum dalam pergaulan internasional. Untuk menjadi sumber hukum, kebiasaan internasional harus memenuhi dua unsur berikut: (1) terdapat kebiasaan yang bersifat umum, dan (2) kebiasaan itu harus diterima sebagai hukum. Suatu kebiasaan internasional akan diterima sebagai sumber hukum jika tidak ada negara yang menolak hal tersebut/banyak negara yang menggunakan kebiasaan tersebut sebagai hukum.

Latar Belakang Kasus

Kasus Scotia bermula dari sebuah kejadian tabrakan antara kapal uap Inggris yang bernama Scotia dan kapal layar Amerika Serikat yang bernama Berkshire tahun 1871. Kejadian tabrakan tersebut terjadi karena kapal Inggris menabrak kapal Amerika tersebut sehingga kapal milik Amerika Serikat tersebut tenggelam. Karena kejadian tersebut, Berkshire melakukan tuntutan terhadap Scotia ke pengadilan internasional menuntut ganti rugi karena kapal Scotia yang berukuran jauh lebih besar telah menabrak Berkshire sehingga menyebabkan tenggelamnya kapal Berkshire tersebut. Akan tetapi, tuntutan dari Berkshire tersebut ditolak oleh pengadilan internasional karena mereka pengadilan menganggap bahwa kapal Berkshire lah yang telah melakukan kesalahan karena tidak mematuhi kebiasaan internasional yang sedang berlaku pada saat itu, yaitu tidak memasang lampu penerangan yang memenuhi standar pada masa itu.

Aturan mengenai pemasangan lampu penerangan yang sesuai standar pada masa itu pertama kali dicanangkan oleh pemerintah Inggris pada tahun 1864 untuk mencegah tabrakan antar kapal di laut. Selanjutnya, kebiasaan tersebut diikuti oleh lebih dari tiga puluh negara lainnya di dunia sehingga menyebabkan hal tersebut dijadikan sebagai patokan sumber dalam hukum internasional. Pengadilan mengaggap bahwa dalam kasus ini kapal Berkshire lah yang melakukan kesalahan karena tidak memasang lampu penerangan sesuai standar pada masa itu. Pengadilan menjadikan kebiasaan pada masa itu sebagai sumber hukum dalam menetapkan keputusan tersebut.

Alasan Pengadilan

“Undoubtedly, no single nation can change the law of the sea. That law is of universal obligation, and no law of one or two nations can create obligations for the world. Like all the laws of the nations, it rests upon the common consent of civilized communities. It is of force not because it is prescribed by any superior power, but because it is generally accepted as a rule of conduct. Whatever may have been its origin, whether in the usages of navigation or in regulations of maritime states, or both, it has become the law of the sea only by consistent acceptance and use of those nations who may be said to constitute the commercial world…..”

Analisis

Kasus ini merupakan sebuah kasus dimana tabrakan yang disebabkan oleh ketidakpatuhan terhadap hukum dari satu pihak yang terlibat dalam tabrakan tersebut. Kapal layar Berkshire tidak memasang lampu penerangan sesuai standar pada masa itu yang telah menjadi kebiasaan oleh banyak negara untuk mencegah tabrakan kapal. Pengadilan internasional memutuskan bahwa kapal Berkshire lah yang melakukan kesalahan dalam kasus ini yang menyebabkan kapal Scotia menabrak kapal Berkshire. Pengadilan internasional merujuk kepada peraturan yang dikeluarkan pemerintah Inggris pada tahun 1863 menyangkut serangkaian peraturan untuk mencegah tabrakan kapal di laut dan pada tahun berikutnya Kongres Amerika Serikat secara praktis mengeluarkan peraturan-peraturan yang sama, dan dalam waktu yang singkat kemudian hampir semua pemerintah negara-negara maritim melakukan hal yang sama. Aturan pemerintah Inggris tersebut telah diterima secara luas oleh masyarakat internasional dan otomatis menjadi sumber hukum internasional sehingga ini dijadikan sebagai acuan dalam memutuskan perkara siapa yang bersalah dalam kasus tersebut.

Menurut Starke, sebelum suatu adat-istiadat dapat dianggap menjadi suatu kaidah kebiasaan hukum internasional, dua syarat harus dipenuhi terlebih dahulu, syarat-syarat tersebut berkenaan dengan (i) materi, dan (ii) aspek psikologis dimana aspek materi menyatakan bahwa secara umum harus ada suatu tindakan yang berulang-ulang yang melahirkan kaidah kebiasaan, sedangkan aspek psikologis menyatakan bahwa keyakinan bersama bahwa pengulangan tindakan itu merupakan akibat dari suatu kaidah yang memaksa. Di sini, kebiasaan internasional yang dimaksud adalah aturan dari pemerintah Inggris dan Amerika dalam hal mencegah tabrakan di laut yang diikuti oleh hampir semua negara maritim, yaitu memasang lampu penerangan yang sesuai standar sesuai peraturan yang telah diberlakukan. Pengadilan internasional telah membuat keputusan yang sangat tepat dalam kasus ini karena didasarkan pada kebiasaan internasional yang berlaku pada saat itu dan mau tidak mau kapal Berkshire harus mengakui kesalahannya.

DAFTAR PUSTAKA

J.G Starke. 1989. Pengantar Hukum Internasional jilid 1 terjemahan. Jakarta: Sinar Grafika. Hal 43, 47-48

Case: Customnary Law. The Scotia Case (1871). (http://chatt.hdsb.ca/~mossutom/law/Handouts/Unit%206-Customary%20Law%20Cases.pdf), diakses 2 Oktober 2012
Kebiasaan internasional. (http://www.ut.ac.id/html/suplemen/ppkn4419/Materi3/Kebiasaan%20Internasional.htm), diakses 28 September 2012

Scotia dan Berkshire: Hukum Diplomatik (http://annisasathila.blogspot.com/2011/09/task-disaster-hukum-diplomatik-1.html), diakses 28 September 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s