Diplomasi AS pada Kasus Krisis Misil Kuba

Review Singkat Krisis Misil Kuba

Krisis Misil Kuba merupakan salah satu peristiwa yang paling menegangkan selama masa perang Dingin dan peristiwa yang hampir membawa dunia pada perang nuklir. Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Presiden AS John F. Kennedy dan Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Kruschev. Perseteruan antara AS dan Uni Soviet dalam kasus ini berawal ketika AS menginvasi Kuba di Teluk Babi. Uni Soviet yang mengetahui bahwa AS ada dibalik layar pada peristiwa Invasi Teluk Babi tersebut kemudian marah besar karena Kuba merupakan sekutunya sesama negara komunis. Uni Soviet kemudian merespon hal tersebut dengan menempatkan rudal-rudal balistiknya di Kuba.
Hal tersebut kemudian diketahui oleh AS melalui pesawat mata-mata mereka, U-2 yang kemudian segera memberitahu Presiden Kennedy. Rudal-rudal tersebut mengancam AS karena dapat menjangkau wilayah AS. Amerika Serikat kemudian merespon dengan melaksanakan blokade laut untuk mencegah kapal-kapal Uni Soviet memasuki Kuba. Selain itu, AS juga mengancam akan menginvasi Kuba dan menghancurkan rudal-rudal milik Soviet tersebut dengan serangan udara. Tindakan Soviet yang menanamkan rudalnya di Kuba ini juga sebagai balasan atas hal yang sama yang dilakukan AS di Turki di mana rudal-rudal AS dapat menjangkau Soviet. Keduanya kemudian bernegosiasi dan kemudian pada 28 Oktober 1962 Kruschev setuju untuk menarik rudal-rudal tersebut dari Kuba. Sebagai imbalan penarikan misil tersebut, AS setuju untuk tidak menginvasi Kuba dan akan menarik misilnya dari Turki. Kemudian berakhirlah krisis yang terjadi selama 13 hari tersebut.

Opsi-opsi yang dijadikan pertimbangan

Pada hari pertama saat krisis misil Kuba, AS mempertimbangkan sikapnya dengan menghadirkan dua opsi, yaitu serangan dan invasi udara dan karantina laut dengan ancaman serta aksi militer. Lalu, AS memutuskan untuk melaksanakan karantina laut. Kemudian pembicaraannya dengan General Walter Sweeney of the Tactical Air Command ia diberitahukan bahwa jika serangan udara dilakukan, maka tidak akan menghancurkan misil-misil tersebut 100 persen. Pada hari ketujuh, Presiden Kennedy kemudian menghubungi Kruschev dan memberitahukan bahwa tidak ada seorangpun di era nuklir pada masa itu yang ingin membawa dunia kepada perang yang dapat menghadirkan bencana yang sangat luar biasa ke seluruh dunia, bahkan kepada pemenang perang. Di pihak lain, Fidel Castro memaksa Kruschev untuk melakukan serangan pada AS. Kruschev lalu menawarkan dua opsi pada AS, yaitu penarikan rudal Soviet dan sebagai timbal baliknya dengan mencabut karantina yang dilakukan AS, serta janji bahwa AS tidak akan menyerang Kuba. Kemudian, dalam pertemuannya dengan Komite Eksekutif, Kennedy menegaskan bahwa penarikan rudal AS di Turki kemudian harus menjadi bagian dari negosiasi demi penyelesaian krisis. Di tempat terpisah, Robert Kennedy mengadakan pertemuan rahasia dengan Dubes Uni Soviet, Anatoly Dobryinin yang menyatakan bahwa Uni Soviet akan menarik rudal dari Kuba di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam pertukaran untuk sebuah janji Amerika untuk tidak menyerang Kuba. Esoknya, Kruschev kemudian setuju dengan opsi yang diajukan oleh AS dan krisis pun berakhir.

Analisis Rational Choice

Kennedy, sebagai seorang presiden AS dalam hal ini adalah aktor utama sebagai pembuat keputusan di pihak AS. Meskipun ia tidak sendiri dalam merumuskan kebijakan luar negerinya, ia tetap tidak terpengaruh oleh pihak-pihak lain yang mendesaknya untuk merapkan kebijakan yang keras terhadap Uni Soviet. Ia tahu bahwa Uni Soviet bukanlah musuh yang biasa dan sikap keras terhadap Uni Soviet dapat menjadi bumerang bagi AS. Ia kemudian lebih mengedepankan opsi-opsi yang rasional dan dapat menguntungkan kedua negara ketimbang menetapkan kebijakan yang hanya menguntungkan satu pihak yang bahkan dapat menjadi suatu tindakan bunuh diri.

Amerika Serikat dalam hal ini tidak langsung menyerang Kuba ataupun Uni Soviet karena hal tersebut sangat mengancam keamanan dunia, namun melakukan tindakan yang dapat membuat Uni Soviet tertekan, yaitu dengan melakukan karantina atau blokade laut di daerah perairan Kuba dan mengepung wilayah Kuba sehingga Soviet tertekan. Dengan hal tersebut, AS kemudian dapat mengajukan opsi yang dapat menghindari kemungkinan terjadinya perang nuklir yang sangat mengerikan dan dapat mengancam kehidupan seluruh makhluk hidup di dunia. Sikap AS ini, terutama Kennedy, dapat dipahami dari ideologi yang dianut oleh AS sendiri, yaitu liberalisme yang lebih mengedepankan kerjasama ketimbang konflik antar negara. Di samping itu, faktor idiosinkratik dai Kennedy turut pula menentukan arah kebijakan luar negeri yang dilakukan AS. Kennedy merupakan seseorang yang sangat hati-hati dan mengedepankan rasionalitas ketika bertindak dan tidak mengedepankan emosi dirinya. Karena itu pula ia menentang segala desakan yang datang dari pihaknya sendiri.

Proses Diplomasi yang muncul sebagai solusi

Kasus Krisis Misil Kuba yang hampir membawa dunia kepada perang nuklir ini terjadi karena perseteruan dua kutub yang menjadi kekuatan utama dalam sistem internasional saat itu, yaitu AS dan Uni Soviet. Keduanya sadar akan kekuatan masing-masing dan kekuatan lawan masing-masing. Mereka tidak ingin tergesa-gesa dengan melakukan tindakan bodoh yang dapat merugikan dirinya sendiri. Kedua pemimpin, baik Kennedy maupun Kruschev sangat berhati-hati ketika mengambil keputusan. Keduanya lalu mengedepankan negosiasi yang intens dan komunikasi dua arah yang bertujuan untuk mengetahui keinginan dari masing-masing pihak. Amerika Serikat dan Uni Soviet kemudian setuju untuk saling berkompromi dan bekerja sama dalam hal ini.

Dialog yang dilakukan oleh kedua negara dapat mencerminkan jenis diplomasi yang mereka lakukan, yaitu diplomasi pertahanan. Keduanya mengedepankan dialog untuk menyelesaikan perselisihan walaupun sebenarnya AS tekah menekan Uni Soviet terlebih dahulu dengan memblokade dan mengkarantina wilayah laut Kuba. Hal tersebut bertujuan agar Uni Soviet bersedia untuk berunding dan melakukan dialog dengan AS untuk menyelesaikan perselisihan di antara keduanya.

Mengapa AS menanggapi penempatan misil di Kuba ini sangat serius?

Kuba merupakan sebuah negara komunis pimpinan Fidel Castro yang menjadi sekutu Uni Soviet. Posisi Kuba yang tepat berada di selatan Amerika Serikat dan tidak terlalu jauh dengan AS menjadikan ancaman tersendiri bagi AS di mana pada masa tersebut AS sedang gencar-gencarnya menghadang pengaruh komunis Uni Soviet. Penempatan misil di Kuba tersebut sangat mengancam AS karena senjata tersebut dapat menjangkau wilayah AS dan menghancurkannya karena dahsyatnya dampak yang ditimbulkan oleh senjata nuklir tersebut. Maka dari itu, AS sebenarnya sangat dihinggapi rasa ketakutan akan ancaman tersebut dan kemudian merespon sebagai bentuk perlindungan dirinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s