Masalah Sosial

Oelah : Gina Indah P. Nastia

Sejak manusia mulai hidup bermasyarakat, maka sejak saat itu sebuah gejala yang disebut masalah sosial berkutat di dalamnya. Pada dasarnya manusia menginginkan suasana Homo Homini Socius (manusia adalah kawan bagi sesamanya). Mencita-citakan suatu kehidupan yang aman, tentram dan sejahtera. Namun dalam realitas sosial tidak pernah dijumpai suatu kondisi masyarakat yang ideal; dalam pengertian tidak pernah dijumpai kondisi yang menggambarkan bahwa seluruh kebutuhan setiap warga masyarakat terpenuhi, seluruh perilaku kehidupan sosial sesuai harapan atau seluruh warga masyarakat dan komponen sistem sosial mampu menyesuaikan dengan tuntutan perubahan yang terjadi.

Masalah Sosial pada hakekatnya adalah suatu fenomena yang menunjukkan suatu situasi dimana tidak adanya kesesuaian antara das Sollen dengan das Sein. Fenomena mana juga merupakan suatu hasil atau bersumber dari proses-proses sosial yang berlangsung dalam kehidupanbersama. Sebagai suatu fenomena yang bersumber dari adanya kehidupan bersama, masalah sosial tidak bisa dihapus tetapi setidaknya dapat dicegah faktor-faktor yang menjadi penyebabnya atau diantisipasi dampaknya untuk kemudian dicari jalan keluarnya. Masalah-masalah sosial terjadi karena unsure-unsur masyarakat tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga menyebabkan kekecewaan-kekecewaan dan penderitaan. Namun demikian masalah sosial berbeda dengan masalah-masalah lainnya yang ada di masyarakat. Masalah sosial berhubungan erat dengan nilai-nilai sosial dan lembaga-lembaga kemasyarakatan.

Masalah tersebut bersifat sosial karena bersangkut paut dengan hubungan antar manusia dan di dalam kerangka bagian-bagian kebudayaan yang normatif. Hal ini dinamakan masalah karena bersangkut paut dengan gejala-gejala yang mengganggu kelanggengan dalam masyarakat. Dengan demikian masalah-masalah sosial menyangkut nilai-nilai sosial yang mencakup pula segi moral, karena untuk dapat mengklasifikasikan suatu persoalan sebagai masalah sosial harus digunakan penilaian sebagai pengukurannya. Apabila suatu masyarakat menganggap sakit jiwa, bunuh diri, perceraian, penyalahgunaan obat bius sebagai masalah sosial, maka masyarakat tersebut tidak semata-mata menunjuk pada tata kelakuan yang menyimpang, akan tetapi sekaligus juga mencerminkan ukuran-ukuran umum mengenai segi moral.

Setiap masyarakat mempunyai ukuran-ukuran yang berbeda mengenai apakah sebuah gejala itu sebagai masalah sosial. Misal gelandangan, merupakan masalah sosial nyata yang dihadapi kota-kota besar di Indonesia. Tetapi belum tentu masalah tadi dianggap masalah sosial di tempat lainnya. Hal ini tergantung juga dari faktor waktu; mungkin pada waktu-waktu lampau permainan judi dianggap sebagai masalah sosial yang penting, akan tetapi dewasa ini tidak.

Selain itu ada juga masalah-masalah yang tidak bersumber pada penyimpangan norma-norma masyarakat, tetapi lebih banyak mengenai susunannya, seperti masalah penduduk, pengangguran dan disorganisasi keluarga. Jadi pada dasarnya, masalah sosial menyangkut nilai-nilai sosial dan moral. Masalah tersebut merupakan persoalan, karena menyangkut tata kelakuan yang immoral, berlawanan dengan hukum dan bersifat merusak. Sebab itu masalah-masalah sosial tak akan mungkin ditelaah tanpa mempertimbangkan ukuran-ukuran masyarakat mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk.

Masalah sosial timbul merupakan hasil dari proses perkembangan masyarakat, artinya masalah tersebut sewajarnya timbul, banyak perubahan-perubahan yang bermanfaat bagi masyarakat walaupun mungkin keguncangan-keguncangan terutama bila perubahan berlangsung cepat dan bertubi-tubi. Dalam jangka waktu masyarakat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan, timbullah masalah sosial, sampai unsur-unsur masyarakat dalam keadaan stabil lagi.

Masalah sosial merupakan akibat dari interaksi sosial antara individu, antara individu dengan kelompok, atau antar kelompok.
Sejalan dengan hal tersebut, sejak tumbuhnya ilmu pengetahuan sosial yang mempunyai objek studi kehidupan masyarakat, maka sejak itu pula studi masalah sosial mulai dilakukan. Dari masa ke masa para sosiolog mengumpulkan dan mengkomparasikan hasil studi melalui beragam perspektif dan fokus perhatian yang berbeda-beda, hingga pada akhirnya semakin memperoleh jalan untuk memperoleh pandangan yang komprehensif serta wawasan yang luas dalam memahami dan menjelaskan fenomena sosial.

Masalah sosial mencakup pengertian yang luas, karena bukan hanya mencakup permasalahan-permasalahan kemasyarakatan (societal problems) tetapi juga mencakup permasalahan di dalam masyarakat yang berhubungan dengan gejala-gejala abnormal di dalam kehidupan masyarakat (ameliorative or social problems). Perbedaan cakupan antara sosiologi dan pekerjaan sosial dalam masalah sosial adalah bahwa sosiologi melalui kajian dan analisis tentang macam-macam gejala kehidupan masyarakat secara umum untuk menemukan dan menafsirkan realita kehidupan masyarakat, sedangkan pekerjaan sosial sebagai profesi utama dalam bidang kesejahteraan sosial berusaha menanggulangi gejala-gejala abnormal dalam masyarakat, atau memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.

Dalam kajian masalah sosial terdapat hubungan erat antara sosiologi dengan pekerjaan sosial; karena setiap masalah sosial perlu dikaji kenyataan dan latar belakang masalah (disini pentingnya sosiologi), sedangkan pekerjaan sosial melakukan berbagai usaha perbaikan dalam masalah-masalah sosial. Pada tingkatan tertentu, hasil kajian dan analisis sosiologi dapat memberikan alternatif pemecahan masalah yang mungkin dapat dianggap efektif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s