Restorasi Meiji : Buah dari cara pikir Jepang dalam memandang Modernitas Barat

Jepang merupakan sebuah negara maju dan moderen yang tidak kalah dengan negara-negara Barat dalam segi apapun. Di saat negara-negara Asia lain masih terkungkung dalam penjajahan maupun kemiskinan dengan kuatnya sisi tradisional mereka, Jepang telah menjelma menjadi sebuah kekuatan di dunia yang sejajar dengan negara-negara Barat yang “mendominasi” dunia pada saat itu, bahkan hingga saat ini, walau sudah sedikit terusik. Siapa sangka bahwa Jepang pada zaman dahulu hanyalah sebuah kekaisaran yang sangat tradisional dan terkenal dengan cara mereka menutup diri dari dunia luar, layaknya Tiongkok pada masa kepemimpinan Mao Zedong di Partai Komunis. Namun, invasi negara-negara Barat dengan semangat 3G-nya kemudian membuka pikiran bagi Jepang pada saat itu. Dimulai pada 1853, ketika Komodor Perry, seorang perwira Angkatan Laut Amerika Serikat meminta atas nama AS beserta berbagai negara Eropa, khususnya Inggris, agar Jepang dapat membuka diri untuk perdagangan. [1]
Interaksi antara Jepang dengan Barat kemudian meningkat dan menimbulkan kekhawatiran bagi Jepang dan mereka merasa terancam akan invasi negara-negara Barat pada masa Rezim Tokugawa. Ancaman yang datang dari Barat mendorong elite berkuasa yang baru merasa perlu belajar dari Barat secepat mungkin jika ingin mempertahankan kemerdekaan Jepang dan menghindari nasib yang menimpa Tiongkok pada Perang Candu yang mengakibatkan negara tersebut kehilangan kedaulatannya. [2] Hal tersebut kemudian mendorong Jepang untuk belajar segala hal dan meniru dari Barat. Mereka belajar dari modernitas Barat dan menerapkannya dengan tujuan agar mereka dapat bertahan hidup dan berada dalam posisi yang sejajar dengan negara-negara Barat sebagai negara yang maju. Hasilnya, Jepang adalah negara Asia pertama yang tergolong sebagai negara maju dan dipandang sejajar kedudukannya dengan negara-negara Barat di saat negara-negara Asia lainnya takluk oleh penjajahan dan masih memiliki cara pandang yang sangat tradisional. Namun, elit-elit berkuasa di Jepang berhasil mempertahankan cara hidup, tradisi, adat istiadat, struktur keluarga, hubungan dan hirarki Jepang dalam kadar mengagumkan. [3]
Ada hal menarik yang dapat dipetik dari hal ini, yaitu ketika Jepang melihat Barat sebagai kekuatan yang dapat mengancam eksistensinya, Jepang kemudian berusaha untuk mempelajari segala hal mengenai Barat untuk kemudian diimplementasikan di dalam dirinya agar mereka dapat sejajar dan tidak menjadi korban hegemoni Barat. Jepang melihat modernitas negara-negara Barat yang membuat mereka menjadi maju dan dapat mengancam eksistensinya. Pada intinya, oksidentalisme Jepang terhadap Barat kemudian mempengaruhi mereka untuk belajar agar dapat menjadi Barat, dengan tidak menghilangkan sisi tradisionalitasnya.

Referensi:
[1] Martin Jacques. 2011. Jepang, Modern tapi Nyaris Bukan Barat. Salah satu bab dalam buku When China Rules The World. Terjemahan. Jakarta: Kompas Gramedia. Hal. 55
[2] Ibid. Hal. 56
[3] Ibid. Hal. 57

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s